Posts

Showing posts from 2026

Dosen Itu Kerjanya Cuma Ngajar? Kalau Benar, Mungkin Saya Salah Profesi

  Dosen Itu Kerjanya Cuma Ngajar? Kalau Benar, Mungkin Saya Salah Profesi "Enak ya jadi dosen. Kerjanya cuma ngajar beberapa jam, habis itu pulang." Kalimat itu mungkin termasuk salah satu mitos paling awet di dunia pendidikan tinggi. Umurnya mungkin sudah setua kapur tulis. Bedanya, sekarang kapur sudah diganti proyektor, tetapi anggapan itu masih tetap hidup. Kalau dihitung secara matematis, memang terlihat sederhana. Misalnya seorang dosen mengajar delapan jam dalam seminggu. Dibandingkan jam kerja kantor yang mencapai empat puluh jam, seolah-olah masih ada tiga puluh dua jam tersisa untuk bersantai, nongkrong di cafe atau warung kopi - kalau memang ada dosen yang sempat. Sayangnya, kehidupan nyata tidak sesederhana jadwal kuliah. Mengajar hanyalah bagian yang terlihat oleh mahasiswa. Ibarat pertunjukan teater, itu adalah adegan di atas panggung. Yang tidak terlihat adalah latihan berhari-hari di belakang layar. Sebelum memasuki kelas, dosen harus membaca literat...

Menua dengan Indah: Saat Usia, Ilmu, dan Sajadah Berada dalam Satu Garis Lurus

Ada sebuah hukum alam yang tidak bisa kita negosiasikan: kita semua pasti menua . Kerutan di ujung mata akan muncul, rambut satu dua mulai memutih, dan langkah kaki mungkin tak selincah dulu. Namun, ada satu hukum karakter yang seharusnya berjalan beriringan dengan waktu: semakin bertambah angka usia, semakin matang dan bijak pula jiwanya. Dalam perjalanan hidup, menua itu kepastian, tetapi menjadi bijak dan taat adalah pilihan perjuangan. Makna Bijak dalam Kacamata Seorang Muslim Bagi seorang Muslim, bertambahnya usia bukan sekadar tentang merayakan sisa umur, melainkan tentang mendekati garis finish. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Ketika usia berkepala 3, 4, 5, atau seterusnya, "menu" spiritual kita seharusnya sudah berubah: Dari Ambisi ke Ambisius Akhirat: Jika di usia muda kita mengejar dunia seolah kita hidup selamanya, di usia matang fokusnya bergeser pada persiapan "pulang...